Pernahkah kita membayangkan sebuah kompetisi dunia di mana Indonesia tidak hanya sekadar hadir sebagai peserta, tetapi sebagai penguasa tahta selama tujuh tahun berturut-turut? Menariknya, prestasi ini bukan datang dari lapangan sepak bola ataupun lintasan balap, melainkan dari sebuah panggung yang jauh lebih sunyi namun sangat bermakna yaitu panggung kedermawanan global. Indonesia bukan sekadar “cukup dermawan”, melainkan telah menjadi standar emas bagaimana sebuah bangsa mengekspresikan kasih sayangnya kepada sesama manusia.
Berdasarkan laporan terbaru dari Charities Aid Foundation (CAF) melalui World Giving Index (WGI), Indonesia secara konsisten dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia. Sejak tahun 2018 hingga laporan terakhir di tahun 2024, posisi puncak ini tidak pernah bergeser. Dengan skor WGI yang mencapai angka fantastis 74 poin, Indonesia membuktikan bahwa di balik segala keriuhan politik dan tantangan ekonomi, ada satu DNA yang tidak pernah luntur dari darah masyarakatnya yaitu keinginan untuk memberi. Salah satu temuan paling mencengangkan dari laporan CAF tersebut adalah fakta bahwa lebih dari 8 dari 10 orang Indonesia pernah berdonasi dalam periode survei. Angka partisipasi ini bukan hanya luar biasa, tapi juga berada jauh di atas rata-rata global, sehingga hal ini menegaskan bahwa kedermawanan di negeri ini bukanlah pengecualian, melainkan sebuah norma.
Lantas, bagaimana cara dunia mengukur kebaikan sebuah bangsa? WGI menggunakan metodologi yang menyentuh tiga dimensi fundamental dalam interaksi manusia. Pertama adalah kesediaan membantu orang asing (helped a stranger). Ini mengukur seberapa banyak individu yang mau mengulurkan tangan bagi mereka yang tidak dikenal, sebuah indikator empati yang paling murni. Kedua, donasi uang (donated money), yang menunjukkan persentase orang yang menyisihkan hartanya secara sukarela untuk organisasi amal. Ketiga, meluangkan waktu sebagai relawan (volunteered time), sebagai indikator kerelaan menyumbangkan tenaga—aset paling berharga manusia untuk kegiatan sosial.
Di Indonesia, ketiga indikator ini tidak hanya sekadar angka statistik, melainkan refleksi dari gaya hidup. Kita adalah bangsa yang merasa tidak enak jika melihat orang lain kesulitan atau penggalangan donasi melalui kardus Aqua di pinggir jalan. Kita adalah masyarakat yang secara otomatis merogoh kantong saat kardus amal lewat, bahkan tanpa harus melihat siapa yang membawanya. Nilai donasi uang dan sukarelawan waktu kita selalu berada di angka yang sangat tinggi, melampaui negara-negara maju yang secara finansial jauh lebih mapan. Fenomena ini membuktikan bahwa kedermawanan Indonesia lahir dari kombinasi unik antara faktor budaya gotong royong, nilai agama yang kuat, sistem filantropi yang terinstitusionalisasi, solidaritas tinggi saat bencana, serta percepatan digitalisasi donasi.
Satu hal yang paling menarik untuk dikaji adalah bahwa tingkat kedermawanan Indonesia tidak selalu berkorelasi dengan tingkat pendapatan per kapita yang tinggi. Di banyak negara barat, filantropi seringkali dikaitkan dengan akumulasi kekayaan—bahwa seseorang baru memberi setelah semua kebutuhannya terpenuhi. Namun di Indonesia, budaya memberi bersifat inklusif, bahkan hal ini dilakukan oleh buruh kasar yang menyisihkan seribu rupiah di kotak masjid, hingga pengusaha besar yang menghibahkan miliaran melalui yayasan profesional. Inklusivitas ini menunjukkan bahwa memberi di Indonesia telah menjadi kebutuhan spiritual daripada sekadar kewajiban ekonomi. Kita melihat bagaimana orang-orang dengan penghasilan pas-pasan tetap sanggup berbagi makanan atau tenaga saat ada bencana melanda. Kedermawanan di sini adalah bahasa cinta yang dipahami oleh semua lapisan ekonomi, membuktikan bahwa tangan di atas tidak harus selalu menunggu tangan yang penuh.
Salah satu bukti paling nyata dari ketangguhan kedermawanan kita terlihat saat badai pandemi Covid-19 melanda bumi. Di saat banyak negara mengalami penurunan drastis dalam aktivitas filantropi karena ketakutan akan ketidakpastian ekonomi dan social distancing, grafik kedermawanan Indonesia justru menunjukkan tren yang anomali yaitu ia tetap meningkat.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada perpaduan dua kekuatan besar. Pertama, spirit keagamaan, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menyediakan instrumen filantropi yang sangat terstruktur untuk menjaga aliran kasih sayang ini tetap berdenyut. Hal ini bermula dari Zakat, yang diposisikan bukan sekadar sebagai anjuran moral, melainkan kewajiban teologis bagi mereka yang mampu. Zakat hadir sebagai bentuk redistribusi kekayaan yang sangat adil, memastikan bahwa setiap kelebihan harta memiliki hak bagi mereka yang kekurangan. Melengkapi kewajiban tersebut, terdapat nafas Infak dan Sedekah yang menjadi anjuran tanpa batas, mendorong setiap jiwa untuk terus memberi dalam kondisi lapang maupun sempit sebagai manifestasi rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta. Tak berhenti di sana, peradaban kedermawanan ini diperkokoh dengan instrumen Wakaf, sebuah bentuk investasi sosial jangka panjang di mana aset yang diserahkan akan terus dikelola, sementara manfaatnya mengalir abadi melintasi generasi. Struktur teologis inilah yang menjaga kedermawanan masyarakat tetap stabil bahkan di tengah guncangan ekonomi sekalipun.
Kedua, spirit sosial melalui gotong royong. Inilah filosofi lama yang sudah tertanam jauh sebelum istilah filantropi populer. Gotong royong adalah mekanisme pertahanan diri masyarakat Indonesia saat menghadapi krisis. Ketika tetangga harus menjalani isolasi mandiri, pintu rumah mereka tidak tertutup rapat, melainkan dipenuhi dengan gantungan bahan makanan dari tetangga lainnya. Kita tidak menunggu instruksi negara untuk saling menyelamatkan di mana kita bergerak karena kita merasa satu tubuh.
Meskipun Islam menjadi motor utama melalui populasi mayoritasnya, kedermawanan Indonesia juga diperkuat oleh agama-agama lain. Tradisi persembahan, kasih sesama dalam Kristiani, konsep Dana dalam Budha, serta pengabdian sosial dalam Hindu turut memperkaya ekosistem filantropi nasional. Keberagaman ini menciptakan sebuah jaring pengaman sosial yang sangat luas dan inklusif.
Institusionalisasi kedermawanan ini semakin diperkuat dengan kehadiran lembaga-lembaga resmi. Kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang terakreditasi membuat praktik kedermawanan lebih terorganisasi, terukur, dan berdampak sistemik. Lembaga-lembaga ini memastikan bahwa dana yang terkumpul tidak hanya habis untuk konsumsi jangka pendek, tetapi juga dikelola untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat dhuafa. Dukungan negara melalui regulasi yang kuat memungkinkan lembaga-lembaga ini beroperasi secara profesional dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota.
Selain itu, perkembangan platform digital dan media sosial telah menjadi katalisator luar biasa dalam mobilitas donasi di tanah air. Kampanye kemanusiaan kini dapat menyebar luas dalam hitungan jam—bahkan menit—ke seluruh penjuru negeri. Digitalisasi ini telah meruntuhkan hambatan ruang dan waktu, memungkinkan siapa pun, di mana pun, untuk berkontribusi hanya melalui sentuhan layar ponsel. Fenomena ini secara signifikan meningkatkan partisipasi generasi muda—Milenial dan Gen Z—dalam kegiatan filantropi. Bagi anak muda, berdonasi bukan lagi hal yang kaku atau membosankan. Melalui platform crowdfunding dan media sosial, berderma telah menjadi gaya hidup yang relevan dengan zaman. Mereka merasa menjadi bagian dari gerakan global yang nyata, di mana transparansi dan akuntabilitas dapat dipantau secara langsung melalui pembaruan di media sosial.
Untuk menguji sejauh mana semangat kedermawanan ini tertanam dalam jati diri seorang Muslim, sebuah eksperimen sosial yang mengharukan sempat viral di jagat maya. Nikalie Monroe, seorang Tiktoker asal Amerika Serikat, melakukan sebuah uji coba sederhana namun mendalam. Ia menelepon 43 tempat ibadah yang terdiri dari berbagai gereja dan kuil untuk meminta bantuan susu formula bagi bayinya yang sedang kelaparan.
Sayangnya, dari puluhan tempat ibadah tersebut, Monroe mendapatkan berbagai macam penolakan dengan alasan yang beragam. Ada yang tidak memiliki sumber daya, ada yang prosedurnya terlalu rumit, atau bahkan ada yang tidak merespons sama sekali. Namun, segalanya berubah saat ia menghubungi Islamic Center of Charlotte di Harrisburg Road, Amerika Serikat. Tanpa keraguan sedikit pun, pengurus masjid tersebut langsung mengiyakan permintaannya. Mereka dengan sigap menyediakan kaleng susu formula yang dibutuhkan tanpa bertanya banyak hal atau meminta persyaratan administratif yang berbelit.
Monroe mengungkap rasa bahagianya yang luar biasa saat itu. Baginya, tindakan masjid tersebut bukan sekadar memberi susu, tapi memberi harapan bahwa kemanusiaan dan kasih sayang tidak mengenal batas birokrasi. Eksperimen ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Islam tentang kedermawanan—yang memprioritaskan mereka yang mendesak kebutuhannya—adalah bahasa universal yang menyentuh jiwa siapa pun.
Oleh sebab itu, posisi peringkat pertama selama tujuh tahun ini bukan terjadi karena kebetulan. Ini adalah hasil dari ekosistem kedermawanan yang sangat subur. Tradisi seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, hingga tradisi lokal seperti jimpitan di desa-desa, telah membentuk kebiasaan kolektif untuk berbagi. Kedermawanan di Indonesia telah bertransformasi menjadi identitas nasional yang membanggakan.
Menjadi “Negara Paling Dermawan di Dunia” tentu membawa tanggung jawab moral yang besar. Prestasi ini seharusnya tidak membuat kita jemawa, melainkan menjadi pengingat untuk terus memperbaiki tata kelola kebaikan kita. Kita ditantang untuk mengubah kedermawanan yang sifatnya impulsif atau sekadar charity jangka pendek, menjadi kedermawanan strategis yang mampu memberdayakan dan memutus rantai kemiskinan secara permanen.
Barangkali, kita dapat menjadi saksi bahwa di tengah dunia yang kian individualis, Indonesia adalah mercusuar harapan. Kita membuktikan bahwa kekayaan sebuah bangsa tidak diukur dari cadangan emas di bank sentralnya saja, tetapi dari seberapa luas pintu hati rakyatnya terbuka untuk sesama. Mahkota kedermawanan ini adalah milik kita semua—setiap tangan yang memberi, setiap kaki yang melangkah untuk sukarela, dan setiap doa yang dipanjatkan untuk kebaikan orang lain. Maka, saat Ramadan menyapa, predikat sebagai negara paling dermawan ini harusnya menjadi api semangat yang lebih besar. Mari kita tunjukkan pada dunia sekali lagi, bahwa berbagi bagi bangsa Indonesia bukanlah sebuah kewajiban yang membebani, melainkan sebuah kegembiraan yang membebaskan.

No responses yet