Menjelang Ramadan tahun ini, jagat maya tiba-tiba dibuat heboh oleh aksi seorang remaja Muslim asal Amerika Serikat bernama Mustaqeem. Bukan karena ia melakukan aksi kontroversial atau mencari sensasi murahan, melainkan karena keberaniannya menjadi imam salat Jumat di lingkungan sekolahnya, Portola High School, California. Dengan suara yang merdu, fasih, namun tetap dengan gaya busana dan pembawaan remaja era sekarang, sehingga ia memantik perbincangan luas.
Video Mustaqeem viral bukan hanya karena aspek religiusnya, tapi karena ia menjadi simbol baru wajah generasi Muslim yaitu taat beragama namun tetap percaya diri tampil autentik di tengah lingkungan modern. Fenomena ini melahirkan istilah baru yang unik di kalangan warganet yaitu “Solcer”—Saleh tapi tetap Kalcer. Mustaqeem membuktikan bahwa untuk menjadi saleh, kita tidak harus kehilangan jati diri sebagai anak muda yang hidup di zaman sekarang.
Bagi yang belum familiar, “Kalcer” adalah istilah slang populer di kalangan Gen Z yang berasal dari pelesetan kata bahasa Inggris, culture (budaya). Istilah ini menggambarkan gaya hidup, tren fashion, dan kebiasaan yang dianggap keren, autentik, dan kekinian. Anak muda kalcer identik dengan outfit oversize, hobi nongkrong di aesthetic coffee shop, hingga kegemaran berolahraga seperti lari (sering disebut pelari kalcer).
Namun, kalcer bukan sekadar soal baju apa saja yang diakai atau di mana tempat minum kopinya. Kalcer adalah soal identitas dan cara dalam berinteraksi dengan tren. Ketika kata “Kalcer” disatukan dengan nilai-nilai Islam, maka ia melahirkan gerakan baru, salah satunya remaja kalcer Masjid—di mana mereka aktif dalam kegiatan dan program yang dilaksanakan oleh masjid, sehingga masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku atau hanya untuk orang tua. Sebaliknya, masjid menjadi pusat kreativitas bagi para “Shahibul Kafe”—anak muda yang selama ini akrab dengan meja kafe, kini mulai merasa nyaman berada di serambi masjid.
Gerakan Muslim Kalcer ini bukan hanya fenomena di Amerika. Di tanah air, kita punya Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi, hingga Masjid 17 di Purwokerto yang menjadi pionir dalam merangkul energi muda. Masjid 17 Purwokerto, yang kini berada di bawah pembinaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas, menunjukkan betapa kreatifnya anak muda jika diberi ruang dan dukungan yang tepat.
Nama “17” sendiri menyimpan narasi historis yang sangat kuat. Nama ini diambil dari jumlah infaq pertama yang terkumpul saat masjid ini diprakarsai oleh 17 orang, yaitu sebesar 17 ribu rupiah. Angka 17 dipilih karena memiliki makna sakral dalam Islam dan sejarah bangsa: tanggal kemerdekaan Indonesia (17 Agustus), malam turunnya Al-Qur’an (17 Ramadhan), serta mewakili jumlah 17 rakaat dalam salat wajib sehari-hari. Bahkan, desain arsitektur masjid ini—mulai dari jumlah jendela hingga anak tangganya—selalu mengacu pada angka 17.
Program-program yang Masjid 17 tawarkan sangatlah out of the box. Mereka punya Buka Puasa Prasmanan lebih dari 500 porsi setiap harinya, pendampingan para lansia, Kafe Kemakmuran yang dibuka khusus malam Ahad, Kafe Jumat yang menyediakan makan/minum untuk para jamaah usai salat Jumat, hingga mendorong para pegiat mudanya untuk membentuk komunitas produktif bernama 5 AM Circle. Komunitas ini mengajak mahasiswa dan pemuda di Purwokerto untuk memulai hari lebih pagi setelah Subuh dengan aktivitas positif, menciptakan ekosistem kecil yang menularkan energi luar biasa. Di sini, masjid benar-benar menjadi sarana pengembangan diri, bukan sekadar tempat salat.
Secara umum, Masjid 17 memahami bahwa anak muda sebagai penggerak masjid membutuhkan ekosistem yang mendukung, yang setidaknya termanifestasi pada empat pilar, yaitu: pertama. ruang aktualisasi dan kepercayaan, di mana anak muda Masjid 17 diberikan kepercayaan penuh untuk memimpin program-program strategis, memiliki ruang dalam pengambilan keputusan, serta diberikan kesempatan berkreasi dan berkreativitas. Hal ini membuat mereka merasa memiliki (sense of belonging) terhadap masjid. Kedua, pembinaan spiritual yang relevan, di mana materi dakwah dikemas secara kontekstual melalui halaqah tematik, kajian yang dibuat relevan dengan isu terkini, dan mentoring personal. Ketiga, penguatan skill dan kepemimpinan, untuk mengasah kompetensi, Masjid 17 menghadirkan BESTMA sebagai wadah khusus penguatan skill kepemimpinan bagi para pegiatnya, sehingga mereka tidak hanya semangat secara spiritual tetapi juga kompeten secara manajerial. Keempat, dukungan finansial dan fasilitas, salah satu keunggulan utama dari Masjid 17 adalah implementasi manajemen satu atap dengan LAZISMU Banyumas, sehingga kolaborasi ini memberikan fleksibilitas luar biasa dalam dukungan pendanaan dan fasilitas. Hasilnya terlihat nyata pada media sosial yang aktif, masifnya dakwah digital, hingga pengelolaan database jamaah yang rapi.
Fenomena ini sangat menarik apabila dibedah melalui kacamata teori Habitus dari sosiolog tersohor, Pierre Bourdieu. Jika dunia saat ini akrab dengan Cancel Culture—sebagai budaya menghujat dan menjatuhkan orang lain secara masif di media sosial—maka generasi Muslim Kalcer menawarkan antitesisnya. Alih-alih sibuk “membatalkan” orang lain, mereka malah sibuk “membangun” komunitas.
Habitus, menurut Bourdieu, adalah sistem disposisi yang tertanam dalam diri individu—sebagai sebuah kebiasaan kedua (second nature) yang terbentuk melalui proses sosialisasi panjang. Maka, keberadaan Mustaqeem dan komunitas di Masjid 17 adalah representasi dari pembentukan habitus baru. Mereka tumbuh dalam field (ranah) modernitas yang akrab dengan media sosial, kafe, dan tren global, namun pada saat yang sama, mereka tetap terpapar secara intens pada nilai-nilai spiritualitas Islam.
Persilangan antara pengalaman hidup modern dan religiusitas ini akan menciptakan struktur mental yang memungkinkan mereka merasa “keren” saat salat Subuh berjamaah di masjid, sekaligus tetap relevan saat mendiskusikan outfit oversize. Oleh sebab itu, hal ini bukan sekadar pencitraan, melainkan manifestasi dari disposisi batin yang sudah menyatu yaitu menjadi Muslim yang taat telah menjadi bagian dari gaya hidup “kalcer” mereka.
Dalam kerangka Bourdieu, fenomena ini juga melibatkan akumulasi modal (capital). Para “Shahibul Kafe” yang berpindah ke masjid sebenarnya sedang mengonversi modal sosial (jaringan pertemanan di kafe) dan modal simbolik (status sebagai anak muda kekinian) menjadi modal spiritual. Filantropi Islam dalam konteks ini berubah menjadi gerakan yang bergengsi secara sosial. Di mana berdonasi bukan lagi soal rasa takut akan dosa semata, tapi soal gaya hidup produktif yang memberikan prestise tersendiri dalam lingkaran pertemanan mereka.
Muslim Kalcer mengajarkan kita bahwa Ramadan adalah momentum untuk merekonstruksi habitus kita. Alih-alih terjebak dalam keriuhan Cancel Culture yang toksik di jagat maya, mereka memilih melakukan aksi nyata yang memberdayakan. Menjadi saleh itu keren, menjadi kalcer itu pilihan, tapi menjadi “Solcer” (Saleh dan Kalcer) adalah cara mereka merayakan iman melalui praktik sosial yang autentik di era digital ini.

No responses yet